Selasa, 17 Juli 2012

Contoh Perhitungan PPh 23


Contoh Perhitungan PPh Pasal 23
Contoh Kasus-1:
Pada tanggal 10 May 2010, PT. Sukses Gagalnya, membagikan dividen masing-masing Rp 10,000,000 kepada 20 pemegang sahamnya. Atas dividen yang dibagikan, PT. Sukses Gagalnya wajib memungut PPh Pasal 23.

PPh pasal 23 yang harus dipotong PT. Sukses Gagalnya adalah :
=>15% x Rp 10.000.000,- = Rp 150.000,-
=>20 x Rp 150.000,- = Rp 3.000.000,-

Saat terutang : akhir bulan dilakukan pembayaran yaitu pada tanggal 31 Mei 2010
Saat Penyetoran : paling lambat 10 Juni 2010
Saat Pelaporan : paling lambat 20 Juni 2010
Contoh Kasus-2:
Pada tanggal 20 agustus 2010, PT. Tukang Utang membayar bunga atas pinjaman membayarkan bunga kepada  PT. Lintah Darat sebesar Rp 90.000.000,-

PPh pasal 23 yang harus dipotong oleh PT Tukang Utang adalah :
=> 15% x Rp 90.000.000 = Rp 13.500.000,-

Saat terutang : akhir bulan dilakukan pembayaran yaitu pada tanggal 31 Agustus 2010
Saat Penyetoran : paling lambat 10 September 2010
Saat Pelaporan : paling lambat 20 September 2010
Contoh Kasus-3:
CV. Ayam Goreng Krenyes-Krenyes buat Lemes membayar Royalti kepada Tuan. Doan Wiro Pasaribu atas pemakaian merek Ayam Goreng “Pak Doan” sebesar Rp 1.000.000.000,- pada tanggal 2 Maret 2010

PPh pasal 23 yang harus dipotong CV. Ayam Goreng
 Krenyes-Krenyes buat Lemes :
=> 15% x Rp 1.000.000.000,- = Rp 150.000.000,-

Saat terutang : akhir bulan dilakukan pembayaran yaitu pada tanggal 31 Maret 2010
Saat Penyetoran : paling lambat 10 April 2010
Saat Pelaporan : paling lambat 20 April 2010

Contoh Kasus-4 :
Doan Pasaribu mendapat hadiah sebuah mobil senilai Rp 200.000.000,- atas undian     tabungan yang diselenggarakan Bank Kecap ABC pada tanggal 20 Januari 2010
      PPh pasal 23 yang harus dipotong Bank Kecap ABC adalah :
      => 15% x Rp 200.000.000,- = Rp 30.000.000,-
Saat terutang : akhir bulan dilakukan pembayaran yaitu pada tanggal 31 Januari2010
Saat Penyetoran : paling lambat 10 Februari 2010
Saat Pelaporan : paling lambat 20 Februari 2010
Contoh Kasus-5 :
PT. Selalu Susah menyewa sebuah bus pariwisata dengan nilai sewa Rp 20.000.000,- milik Budi
PPh pasal 23 yang harus dipungut PT. Selalu Susah
=> 2% x Rp. 20.000.000,- = Rp 400.000,-
Apabila Budi tidak mempunyai NPWP maka PPh Pasal 23 yang dipotong PT. Selalu susah adalah Rp 800.000,-

Contoh Kasus-6 :
PT Kalkulus meminta jasa dari Pak Dodi untuk membuat sistem akuntansi Perusahaan dengan imbalan sebesar Rp. 22.000.000,- (sudah termasuk PPN)
PPh pasal 23 yang dipotong PT kalkulus adalah
2% x Rp 20.000.0000,- = Rp 400.000,-
PT. Celalu cayang dy membayarkan jasa konsultan PT Jaya sebesar Rp 2.200.000 ( termasuk PPN). PT jaya tidak mempunyai NPWP
maka PPh pasal 23 yang dipotong PT. Celalu cayang dy adalah:
200% x 2% x Rp 2.000.000 = Rp 80.000,-

13 komentar:

Annida Khoirunnisa mengatakan...

terimkasih

Moh. Heru Kurniawan mengatakan...

sama2.. terimakasih telah berkunjung

sabrina mengatakan...

http://winbiewimpie.blogspot.com/2012/11/pph-pasal-23-dan-contoh-soal.html

Sama persis contoh kasusnya..

Moh. Heru Kurniawan mengatakan...

wah...
padahal contoh itu saya buat sendiri untuk tugas PPh, kayaknya ada yang ngopy nih..

anitayuliana mengatakan...

ijin ngopy ya.. soalnya kena giliran persentasi ttng Pph Pasal 23... :)

Gerakan Pemuda Indonesia Berani Bermimpi mengatakan...

izin copy soal ya pa.. terimakasih.. :)

Lee Aisha mengatakan...

terima kasih

Mita mengatakan...

Kalo Pembelian Mamin/ jasa catering (Catering henny) dan mempunyai NPWP sejumlah 9.750.000,-
apakah menghitungnya langsung
2% x 9.750.000= 195.000,-
atau
2% x 8.863.636,= 177.272 ( dikalikan DPP)
mana yang benar ya? terima kasih

luqman fadilah mengatakan...

pak mau tanya tentang contoh kasus 6.
200% itu memang sudah rumusnya atau pinalti ga punya NPWP?
trus
angka 2.000.000 itu dari mana pak asalnya?

terima kasih pak.

Moh. Heru Kurniawan mengatakan...

Mita : Pada kondisi tertentu untuk menghitung PPh Pasal 23 harus diperhatikan dasar pengenaannya, apakah pada harga tersebut sudah termasuk PPN atau belum. Namun dalam kasus tersebut jasa yang dimaksud adalah jasa katering yang tidak termasuk objek PPN. Jadi pengenaannya langsung = 2% x 9.750.000.

Moh. Heru Kurniawan mengatakan...

Mas luqman : 200% dikarenakan PT Jaya tidak memiliki NPWP (bagi yang tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak, besarnya tarif pemotongan adalah lebih tinggi 100% daripada tarif normal)
Pada kasus tersebut terdapat keterangan sudah termasuk PPN, jadi kita cari DPP nya terlebih dahulu. Dapat dicari dengan cara => 100/110 x 2.200.000 = 2.000.000 (keluarkan PPN terlebih dahulu. Setelah itu baru DPP dikenakan tarif)

Endah Saraswati mengatakan...

terima kasih info contoh soalnya , berguna banget nih :)

Satya Permata mengatakan...

ada pembaruan gag pak ? trims

Poskan Komentar